Psikologi
pendidikan merupakan salah satu cabang dari ilmu psikologi yang
mempelajari bagaimana manusia belajar dalam pendidikan pengaturan,
efektivitas intervensi pendidikan, psikologi pengajaran, dan psikologi
sosial dari sekolah sebagai organisasi. Hal senada juga diungkapkan oleh
Muhibbin Syah (2002) bahwa psikologi pendidikan adalah sebuah disiplin
ilmu psikologi yang menyelidiki masalah psikologis yang terjadi dalam
dunia pendidikan. Dari beberapa definisi tersebut dapat kita simpulkan
bahwa psikologi pendidikan adalah salah satu ilmu yang mempelajari
tentang perilaku manusia di dunia pendidikan yang meliputi studi
sistematis tentang proses dan faktor-faktor yang berhubungan dengan
pendidikan yang bertujuan untuk mengembangkan dan meningkatkan kualitas
pendidikan. Prilaku yang dimaksud di sini bisa terkait dengan prilaku
pendidik ataupun prilaku peserta didiknya.
Tingkatkan Intensitas Belajar Dengan Melihat Kelebihan Dan Kekurangan Yang Dimiliki Dan Raihlah Prestasi !!! :-)
Minggu, 15 Juni 2014
Penerapan Faktor Perkembangan dalam Pembelajaran
Perkembangan fisik anak terus berlangsung pada masa usia sekolah dasar,
meskipun tidak sepesat pada masa usia dini. Begitu pula dengan
penajaman dan penghalusan perkembangan perceptual anak.
Penyelenggaraan pembelajaran yang “hidup” dan sesuai dengan
karakteristik dan kebutuhan fisik anak sangatlah dibutuhkan untuk
memfungsikan unsure - unsure fisik dan atau aspek - aspek perseptualnya.
Cara pembelajaran yang diharapkan antara lain : bersifat langsung,
tersusun secara fleksibel, tidak monoton dan verbalistik, memperhatikan
perbedaan individu, menyajikan aktivitas yang bervariasi seperti
eksperimen, praktek, observasi secara langsung, permainan dan
sejenisnya, serta menggunakan berbagai media dan sumber belajar.
Cara ini tidak hanya akan memunculkan kegemaran dalam belajar, tetapi
juga memberikan hal - hal yang positif, aspek kognisi dan kreativitas,
fisik-perseptual, dan sosial
Perkembangan Fisik dan Perseptual Anak Sekolah Dasar
Masa usia sekolah merupakan masa dimana anak mulai memasuki dunia
pendidikan formal, yakni sekolah. Sekolah Dasar merupakan pendidikan
formal pertama yang berfungsi sebagai pembuka jalan bagi anak untuk
mengembangkan potensi dan kemampuan anak serta memudahkan mereka dalam
meraih mimpi yang mereka harapkan untuk masa depannya nanti. Serta
sebagai jembatan pertama untuk melanjutkan ke jenjang selanjutnya. Usia
anak sekolah dasar berkisar antara 6 - 12 tahun.
- Perkembangan Fisik
Perkembangan fisik pada anak memiliki karakteristik yang berbeda baik sebelum maupun sesudah anak-anak. Perkembangan fisik pada anak usia sekolah dasar perlu dipelajari dan dipahami oleh setiap guru, karena dipercaya bahwa segala aktivitas-aktivitas belajar dan aktivitas-aktivitas yang menyangkut mentalnya serta pembentukan kepribadian dipengaruhi oleh kondisi dan pertumbuhan fisik
Anak - anak dan orang dewasa mempunyai banyak perbedaan, baik dari segi fisik maupun psikisnya. Dilihat dari segi fisik misalnya berat badan, tinggi badan, proporsi dan bentuk tubuh. Sedangkan dari segi psikisnya misal, sifat, tingkah laku dan pola pikir.
- Perkembangan Fisik
Perkembangan fisik pada anak memiliki karakteristik yang berbeda baik sebelum maupun sesudah anak-anak. Perkembangan fisik pada anak usia sekolah dasar perlu dipelajari dan dipahami oleh setiap guru, karena dipercaya bahwa segala aktivitas-aktivitas belajar dan aktivitas-aktivitas yang menyangkut mentalnya serta pembentukan kepribadian dipengaruhi oleh kondisi dan pertumbuhan fisik
Anak - anak dan orang dewasa mempunyai banyak perbedaan, baik dari segi fisik maupun psikisnya. Dilihat dari segi fisik misalnya berat badan, tinggi badan, proporsi dan bentuk tubuh. Sedangkan dari segi psikisnya misal, sifat, tingkah laku dan pola pikir.
ASPEK-ASPEK INOVASI PENDIDIKAN
Inovasi pendidikan di Indonesia dapat dilihat dari empat
aspek, yaitu tujuan pendidikan, struktur pendidikan dan pengajaran, metode
kurikulum dan pengajaran serta perubahan terhadap aspek-aspek pendidikan dan
proses (Cece Wijaya, 1998, p. 28). Inovasi dalam aspek tujuan pendidikan dimulai
pada tahun 1970 dan kini dikenal sebagai Tujuan Instruksional Khusus (TIK).
Inovasi ini berlangsung lambat karena umumnya guru belum dapat membiasakan diri
menjabarkan TIK. Akan tetapi, ia memiliki tujuan yang jelas dan baik dalam
mengajar. Inovasi pada aspek struktur pendidikan melibatkan cara penyusunan
sekolah dan kelompok serta ruangan kelas agar menjadi lebih bergengsi. Hal ini
dapat dilakukan melalui rencana pendidikan. Perencanaan pendidikan merupakan
pencapaian tujuan pendidikan oleh kelompok dan masyarakat, namun secara khusus
perencanaan pendidikan merupakan upaya dan bantuan demi tercapainya tujuan itu
secara individual.
Perencanaan pendidikan menurut pandangan yang banyak
dianut oleh Departemen Pendidikan Nasional ialah suatu rangkaian kegiatan
melihat ke masa depan dalam hal menentukan kebijaksanaan, prioritas dan biaya
pendidikan dengan mempertimbangkan kenyataan yang ada dalam bidang ekonomi,
sosial, budaya, dan politik. Hal tersebut dilakukan untuk mengembangkan potensi
sistem pendidikan, negara dan peserta didik yang dilayani oleh sistem tersebut.
Dari uraian di atas dapat kita lihat bahwa tipe perencanaan yang kuno dan klasik
telah ditinggalkan, saat ini lebih menekankan pada peranan pendidikan dalam
pembangunan demi tercapainya pertumbuhan ekonomi, pembangunan sumber daya
manusia yang memberikan jasa sebagai tenaga kerja.
Faktor Hereditas dan Lingkungan dalam Perkembangan Anak
Manusia merupakan makhluk Tuhan yang paling sempurna dibandingkan dengan
makhluk - makhluk lainnya. Manusia memiliki potensi untuk berkembang
dan meningkatkan kehidupannya baik secara fisik maupun psikis.
Ada dua faktor yang paling berpengaruh terhadap perkembangan individu.
1. Faktor hereditas yang bersifat alamiah dan diwariskan oleh
orang tua. Pada faktor hereditas terdapat gen yang merupakan sifat
bawaan yang nantinya akan ditularkan oleh satu generasi ke generasi
berikutnya.
Pertama gen - gen dominant-resesif, yakni apabila gen dari suatu
pasangan bersifat dominant dan yang satu bersifat resesif, maka yang
dominant itulah yang nantinya akan tertanam dalam diri individu
tersebut.
Kedua pewarisan poligenik. Sebenarnya, dalam satu sel terdapat banyak
gen yang akhirnya menghasilkan karakteristik yang berbeda - beda. Karena
beberapa karakteristik psikologi merupakan hasil dari pasangan -
pasangan tunggal, sedangkan kebanyakan ditentukan oleh interaksi dari
banyak gen yang berbeda.
2. Faktor lingkungan sebagai kondisi atau pengalaman - pengalaman interaksional yang memungkinkan berlangsungnya proses perkembangan.
Misal, di dalam keluarga, setiap anak mempunyai karakter dan pengalaman
yang berbeda - beda. Tergantung dari perlakuan orang tua kepada setiap
anak - anaknya, dan pergaulan dari masing - masing anak. Hal ini
menandakan bahwa faktor lingkungan juga turut mempengaruhi perkembangan
individu.
Rabu, 11 Juni 2014
Pentingnya Pendidikan Karakter Dalam Dunia Pendidikan
Sebelum kita membahas topik ini lebih jauh lagi saya akan memberikan data dan fakta berikut:
- 158 kepala daerah tersangkut korupsi sepanjang 2004-2011
- 42 anggota DPR terseret korupsi pada kurun waktu 2008-2011
- 30 anggota DPR periode 1999-2004 terlibat kasus suap pemilihan DGS BI
- Kasus korupsi terjadi diberbagai lembaga seperti KPU,KY, KPPU, Ditjen Pajak, BI, dan BKPM
Sumber : Litbang Kompas
Kini setelah membaca fakta diatas, apa
yang ada dipikran anda? Cobalah melihat lebih ke atas sedikit, lebih
tepatnya judul artikel ini. Yah, itu adalah usulan saya untuk beberapa
kasus yang membuat hati di dada kita “terhentak” membaca kelakuan para
pejabat Negara.
Pendidikan karakter, sekarang ini mutlak diperlukan bukan hanya di sekolah saja, tapi dirumah dan di lingkungan sosial.
Bahkan sekarang ini peserta pendidikan karakter bukan lagi anak usia
dini hingga remaja, tetapi juga usia dewasa. Mutlak perlu untuk
kelangsungan hidup Bangsa ini.
Bayangkan apa persaingan yang muncul
ditahun 2021? Yang jelas itu akan menjadi beban kita dan orangtua masa
kini. Saat itu, anak-anak masa kini akan menghadapi persaingan dengan
rekan-rekannya dari berbagai belahan Negara di Dunia. Bahkan kita yang
masih akan berkarya ditahun tersebut akan merasakan perasaan yang sama.
Tuntutan kualitas sumber daya manusia pada tahun 2021 tentunya
membutuhkan good character.
Bagaimanapun juga, karakter adalah kunci
keberhasilan individu. Dari sebuah penelitian di Amerika, 90 persen
kasus pemecatan disebabkan oleh perilaku buruk seperti tidak bertanggung
jawab, tidak jujur, dan hubungan interpersonal yang buruk. Selain itu,
terdapat penelitian lain yang mengindikasikan bahwa 80 persen
keberhasilan seseorang di masyarakat ditentukan oleh emotional quotient.
Rabu, 28 Mei 2014
Penderita Autis, Pendidikan serta Penanganan
memiliki beberapa karakteristik seperti kesulitan berkomunikasi dan bersosialisasi. Penderita autis tidak tahu bagaimana mengekspresikan kesenangan atau kesedihannya. Mereka juga tidak tahu caranya berkomunikasi.
“Seorang
anak penderita autis tidak tahu bagaimana cara memanggil ibunya, mereka
akan menyakiti diri sendiri, memukul dirinya hingga ibunya datang,
begitulah salah satu cara mereka memanggil ibunya,” ujar Roselyn.
Menurut Roselyn, penderita autis seringkali berbicara dengan nada yang
monoton dan tanpa ekspresi. Terkadang mereka mengulang-ulang perkataan
orang lain yang mereka dengar, atau biasa disebut echolalia.
Selain
lemah berkomunikasi, penderita autis seringkali bertingkah aneh seperti
selalu mengulangi kegiatan yang sama setiap harinya. “Misalnya mereka
memakai seragam sekolah. Pertama pakai baju, kedua pakai celana, ketiga
pakai sepatu, selalu teratur karena mereka sulit meng-organize,” ujar
Roselyn.
Roselyn
juga mencontohkan, seorang muridnya yang menderita autis tidak memiliki
ketakutan akan bahaya. “Seorang murid saya yang berusia dua tahun suka
naik ke lantai empat, mencondongkan tubuhnya ke bawah, hanya untuk
mendapatkan sensasi ngeri, dia tidak tahu itu bahaya,” ujarnya.
Selain
itu, anak penderita autis juga memiliki obsesi berlebih terhadap
sesuatu. Misalnya mereka terobsesi terhadap angka, maka mereka akan
terus memperhatikan angka-angka, atau terobsesi terhadap tali, mereka
akan memaimkan tali terus menerus. “Penderita autisjuga peka terhadap
sentuhan. Mereka bisa tersakiti hanya karena sentuhan kecil,” katanya.
Meskipun
demikian, ada kelebihan unik yang dimiliki anak penderita autis. Mereka
dapat mengingat informasi secara detil dan akurat. Ingatan visual
mereka juga sangat baik dan mampu berkonsentrasi terhadap subyek atau
pekerjaan tertentu dalam periode yang lama.
Anak
penderita autis membutuhkan perlakuan khusus dan penanganan sejak dini.
Ada beberapa penanganan yang dapat dilakukan seperti memberikan
pendidikan khusus, occupational therapy seperti terapi untuk penderita stroke, terapi bicara dan terapi bahasa, terapi fisik dengan melatih
otot-otot mereka, applied behavioral analysis untuk membantu mengenal perilaku mana yang positif atau negatif, picture exchange communication system, yang merupakan metode belajar melalui gambar, mengekspresikan kata melalui gambar yang mudah ditangkap penderita autis.
otot-otot mereka, applied behavioral analysis untuk membantu mengenal perilaku mana yang positif atau negatif, picture exchange communication system, yang merupakan metode belajar melalui gambar, mengekspresikan kata melalui gambar yang mudah ditangkap penderita autis.
TAK
hanya anak normal yang berhak mendapat pendidikan, anak penyandang
autis pun memiliki hak yang sama. Pemerintah malah mengimbau kepada para
penyandang autis harus mendapatkan perhatian khusus.
Langganan:
Postingan (Atom)